Bener, itulah pertanyaan pertama yangmengusik saya. Nerbitin buku sendiri itu berarti memang harus menyiapkan modal produksi dalam jumlah yang nggak sedikit. Minimal ongkos cetak buku sudah tersedia. Nah, jika ternyata buku saya nanti direspon positif, kudu segera naik cetak lagi supaya stok buku nggak kosong di toko-toko buku. Padahal hasil penjualan buku mungkin baru bisa diterima paling cepet 3 bulan. Dengan kata lain, saya butuh modal gede.
Saya bukan orang kaya. Bahkan sejujurnya nih, dalam dua tahun terakhir saya tengah mengalami krisis ekonomi yang bikin kepala berdenyut setiap hari. Tagihan membengkak, order menyusut, sudah begitu biaya hidup di rumah juga meningkat. Saya bener-bener kobol-kobol, kebobolan dari berbagai sisi.
Tapi saya percaya pada the power of dream. Selalu ada jalan jika kita punya niat yang kuat untuk meraihnya.
Saya masih ingat, dan akan selalu mengingat, persis 10 tahun lalu, pada bulan Maret 2001 ketika saya mulai merintis usaha di bidang desain grafis & merchandising. Saya tak punya modal besar. Uang tunai saya hanya sekitar 10 juta. Lalu atas bantuan teman yang percaya pada passion saya, akhirnya dapat tambahan modal 40juta. Total jendral terkumpul 50 juta buat beli komputer dan sewa rumah untuk kantoran. Modal awal itu langsung habis dan saya kelabakan ketika sebulan kemudian memenangkan tender bernilai seratus juta lebih! Angka yang fantastis untuk sebuah usaha yang baru berumur sebulan. Alhamdulillah, kok ya nemu modal dari orang-orang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Memang, selalu ada jalan untuk sebuah gagasan yang sungguh-sungguh.
Showing posts with label passion. Show all posts
Showing posts with label passion. Show all posts
Tuesday, 8 March 2011
mimpi lama sekali
Setiap awal tahun, terutama sejak tahun 2007, saya selalu membuat resolusi untuk nerbitin buku traveling. Saat itu blog saya sudah berasa travel blog karena banyak kisah perjalanan dan foto-foto perjalanan keliling Indonesia Timur yang mulai saya lakukan sejak tahun 2005. Bahkan di bulan Maret 2007, saya secara khusus membuat travel blog terpisah. Sayangnya, resolusi itu hanya berakhir di bulan Januari, tanpa ada progres pada bulan-bulan berikutnya. Dan setiap awal tahun dengan tanpa jera saya mengulangi resolusi itu.
Memang sih, akhirnya saya berhasil menerbitkan 3 buku perjalanan (Agustus 2009, Agustus 2010, dan Maret 2011). Tapi diterbitkan oleh penerbit besar yang sudah eksis di dunia perbukuan. Sementara, mimpi saya yang sesungguhnya adalah indie publishing, alias nerbitin sendiri. Jadi, meskipun ketiga buku yang saya terbitin direspon sangat memuaskan oleh pembaca dan penerbit, saya kok tetep merasa belum puas ya. Ada yang masih menggedor-gedor di dalam dada, minta segera direalisasikan.
Karena itulah, niat ingsun merintis penerbitan indie harus segera diwujudkan tahun ini juga.
Memang sih, akhirnya saya berhasil menerbitkan 3 buku perjalanan (Agustus 2009, Agustus 2010, dan Maret 2011). Tapi diterbitkan oleh penerbit besar yang sudah eksis di dunia perbukuan. Sementara, mimpi saya yang sesungguhnya adalah indie publishing, alias nerbitin sendiri. Jadi, meskipun ketiga buku yang saya terbitin direspon sangat memuaskan oleh pembaca dan penerbit, saya kok tetep merasa belum puas ya. Ada yang masih menggedor-gedor di dalam dada, minta segera direalisasikan.
Karena itulah, niat ingsun merintis penerbitan indie harus segera diwujudkan tahun ini juga.
Subscribe to:
Posts (Atom)